Kontroversi Pemberian Makan Baby-Led Weaning (BLW) Pada Bayi

wp-1518230223425..jpgKontroversi Pemberian Makan Baby-Led Weaning (BLW) Pada Bayi

Dalam beberapa tahun terakhir ini para orangtua mengenal metode pemberian MPASI alternatif yang banyak disebut-sebut di media sosial, yaitu baby-led weaning (BLW). BLW sendiri sebenarnya bukan hal baru karena sudah diperkenalkan sekitar 10 atau 15 tahun lalu oleh ahli kesehatan asal Inggris Gill Rapley. Hanya saja seiring waktu, ada banyak kontroversi yang terjadi karena metode tersebut. Banyak pihak mengungkapkan bahwa metode tersebut tak baik untuk balita. 

Metode BLW diperkenalkan oleh Rapley dan Markett pada tahun 2005 setelah buku mereka yang berjudul Baby Led Weaning: Essential Guide to Introducing Solid Foods and Helping your Baby to Grow Up a Happy and Confident Eaterdipublikasi. Mereka menyarankan bayi diberi “finger food”, yaitu makanan yang dapat dipegang oleh bayi, sejak bayi berusia 6 bulan, tanpa melalui tahap pemberian makanan berkonsistensi lunak (bentuk puree atau lumat). Orangtua menentukan apa yang ditawarkan untuk dimakan, tetapi bayi yang menentukan apa yang akan mereka pilih, berapa banyak, dan seberapa cepat menghabiskan.

Metode BLW saat ini masih menimbulkan kontroversi dan belum dapat dibuktikan sebagai metode pemberian MPASI yang aman dan lebih superior dibandingkan metode pemberian MPASI yang dianjurkan WHO. Masih banyak hal yang harus diperhatikan dengan cermat sehingga metode BLW ini masih belum dianjurkan untuk diterapkan.

Kontroversipun muncul dengan adanya metode BLW sebagai metode pemberian ASI pertama.

  • Bayi yang mendapat BLW berisiko mengalami kekurangan nutrisi karena bayi yang menentukan jenis makanan yang dihabiskan dan berapa banyak.
  • Seringkali apa yang dipilih bayi tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak, serta zat gizi mikro terutama zat besi.
  • Sebagian beranggapan bahwa metode BLW mendorong bayi untuk menerima berbagai macam tekstur dan rasa makanan sehingga lebih mudah menerima makan “sehat” seperti sayur-sayuran.
  • Ada pula anggapan bahwa metode BLW berdampak pada kemampuan bayi mengatur rasa lapar dan mencegah obesitas. Namun hal ini tidak terbukti berdasarkan studi terbaru oleh Taylor (2017) yang menemukan bahwa bayi yang menjalani metode BLW memiliki indeks massa tubuh yang sama dengan bayi yang diberi MPASI secara konvensional.
  • Pemberian MPASI melalui metode BLW juga banyak ditentang karena bayi berisiko mengalami tersedak. Dua studi kecil oleh Cameron (2013) dan Morrison (2016) mengindikasikan adanya risiko tersedak lebih tinggi pada bayi yang mendapat BLW. Studi BLISS (Baby-Led Introduction to SolidS, 2017) mencoba mengurangi risiko tersedak dengan melakukan modifikasi terhadap metode BLW, yaitu dengan tetap mengikuti aturan umum pemberian makan
  • Studi BLISS juga memperingatkan berbagai hal mengenai metode BLW ini, yaitu jangan berharap dengan menggunakan metode ini bayi dapat langsung menyukai makanan yang dicobanya serta bayi dapat segera mengkonsumsi makanan dengan menu seimbang, Atau juga berharap bahwa bayi langsung dapat menghabiskan makanannya dengan cepat dan tepat waktu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s